Education for Sustainable Development (ESD, Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan) itu menyangkut upaya membuat orang sadar akan arti penting menjaga jangan sampai Bumi ini menjadi bak sampah kita bersama.
ESD merupakan konsep dinamis yang mencakup sebuah visi baru pendidikan yang mengusahakan pemberdayaan orang segala usia untuk turut bertanggungjawab dalam menciptakan sebuah masa depan berkelanjutan. ESD merupakan bagian integral dalam mencapai tiga pilar pembangunan manusia sebagaimana diusulkan Progam Pembangunan PBB (UNDP) dan dikukuhkan dalam KTT Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan di Johannesburg 2002. Tiga pilar itu ialah pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial, dan pelestarian lingkungan hidup. Lebih jauh unsur budaya juga diidentifikasi sebagai tema dasar esensial ESD mengingat pentingnya ESD menyentuh para pemangku kepentingan dan mitra baru dalam kerangka lokal yang relevan.
ESD tidak bermakna sama dengan pendidikan tentang pembangunan berkelanjutan atau sekedar transfer pengetahuan. ESD berurusan dengan upaya mengubah perilaku dan gaya hidup kita bagi transformasi masyarakat yang positif. Lebih jauh, ESD tidaklah sama dengan pendidikan lingkungan hidup (environmental education, EE). EE hanyalah salah satu komponen saja ESD yang mencakup ragam tema seperti pendidikan untuk penanggulanan kemiskinan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, demokrasi dan pemerintahan baik.
Lebih rinci lagi :
Education for Sustainable Development atau biasa disingkat dengan EFDS itu adalah pola pemanfaatan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan tetap memelihara lingkungan, jadi kebutuhan itu bukan hanya terpenuhi hari ini tetapi juga bisa buat generasi mendatang.sebenarnya sih, EFDS ini sendiri sudah dikenal sejak tahun 1970an, khususnya di bidang lingkungan.Dan kemudian, dipopulerin sama Kementrian Lingkuhan Hidup.
EfSD ini pertama kali dicetuskan oleh Prof. Dr. Hans J. A. Van Ginkel, mantan rektor United Nations (UN) University dan Staf Ahli Sekjen UN.
EfSD ini menekankan pada 3 pilar yaitu ekonomi, ekologi atau lingkungan, dan sosial. Ketiga aspek tersebut saling beririsan, tidak terpisah-pisah.
buat diagramnya bisa dilihat :
Latar Belakang :
Setiap dari kita, pasti punya kontak sama lingkungan. setiap dari kita, pasti berhubungan sama yang namanya lingkungan. Jadi, bisa dipastikan kalau kita mempengaruhi lingkungan dan juga pastinya lingkungan mempengaruhi kita.
Setiap dari kita, pasti punya kontak sama lingkungan. setiap dari kita, pasti berhubungan sama yang namanya lingkungan. Jadi, bisa dipastikan kalau kita mempengaruhi lingkungan dan juga pastinya lingkungan mempengaruhi kita.
Tapi, kenapa sih kita masih tetap ngerusak lingkungan sementara kita sendiri jelas-jelas membutuhkannya?
Malahan, pada kenyataannya, orang-orang yang ngerusak lingkungan itu bukan orang-orang sembarangan loh!
seperti para pejabat yang kerap melakukan illegal logging misalnya. heran kan ya sama tindakan mereka? mungkin nih mereka itu belum sepenuhnya paham mengenai pentingnya lingkungan. tapi tenang, semuanya masih bisa diubah kok. masih bisa kita perbaiki. gimana caranya? dengan pendidikan lingkungan hidup secara informal!
wah, memang bisa gitu ya?
ya bisa dong, kan ciri khas pendidikan (tarbiyah, education) ialah seumur hidup, sampai akhir hayat. Pendidikan memasukkan dua kategori besar, yaitu sains (science) dan teknologi (technology)
keduanya saling mendukung satu sama lain sehingga dapat membantu manusia untuk memudahkan pekerjaannya. Produk inilah yang pada akhirnya menghasiljkan sesuatu yang positif bagi lingkungan namun sayangnya juga membawa dampak buruk untuk lingkungan kita. dampak buruk inilah yang kemudian disebut dengan masalah lingkungan.
Masalah lingkungan yang diakibatkan oleh perkembangan sains dan teknologi dapat berujung pada derita manusia. Tetapi bisa juga berujung pada kebahagiaan manusia lantaran sains, teknologi, lingkungan merupakan segitiga sama sisi yang masing-masing berperan dalam kehidupan manusia. Terminologi yang digunakan ialah Trilogi Pendidikan yaitu: sains (science), teknologi (technology), dan lingkungan (environment).
Hubungan antara Manusia dengan Sains, Teknologi dan Lingkungan dapat dilihat :
Secara ekopolitis, Pendidikan Lingkungan kali pertama dikenalkan pada konferensi International Union for Concervation of Nature and Natural Resourses atau Perserikatan Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam di tahun 1971.
Trus di Indonesia gimana dong? sebenarnya, dari dulu sampai tahun 2009 ngga ada politisi hijau di Indonesia. ini artinya, politisi semestinya harus belajar lebih dari suku-suku pedalaman di Indonesia.sementara itu, EfSD dicetuskan juga bukan tanpa manfaat dan tujuan. nah dibawah ini adalah rincian manfaat serta tujuan dari EfSD
Manfaat dan tujuan dari EfSD adalah:
1. Terbangun kapasitas komunitas/bangsa yang mampu membangun, mengembangkan, dan mengimplementasikan rencana kegiatan yang mengarah kepada sustainable development.
2. Mendidik manusia agar sadar tentang individual responsibility yang harus dikontribusikan, menghormati hak-hak orang lain, alam dan diversitas, dapat menentukan pilihan/keputusan yang bertanggungjawab, dan mampu mengartikulasikan semua itu dalam tindakan nyata.
3. 3. Menumbuhkan komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, dunia yang lebih aman dan nyaman, baik sekarang maupun di masa mendatang.
- Kuliah, klasikal
- Keteladanan
- Ceramah
- Diskusi
- Seminar
- Percontohan
Lokakarya strategi regional mengidentifikasi tujuh kelompok pemangku kepentingan yang dapat melaksanakan ESD: Pemerintah dan Komisi Nasional UNESCO, masyarakat, sektor swasta, lembaga pendidikan formal, masyarakat adab (civil society), media dan lembaga internasional.
Pemerintah bisa jadi adalah penggerak utama karena ia melaksanakan perundang-undangan dan kebijakan bangsa. Komisi-Komisi Nasional UNESCO merupakan lembaga utama di tingkat nasional. Komisi-Komisi itu, umumnya berpusat di kementerian pendidikan suatu negara, mempunyai peran yang diperlukan, yaitu mereka melakukan kerja koordinasi dengan lembaga pemerintah dan nonpemerintah lain dan menyiapkan mekanisme untuk kegiatan-kegiatan ESD.
Sementara itu masyarakat merupakan sasaran yang harus dijangkau ESD. Unsur masyarakat seperti kaum perempuan, muda, dan kelompok beragama adalah tempat ESD ditanamkan dan disemaikan. ESD harus diakarkan di masyarakat lokal karena dampak pembangunan berkelanjutan dan pembangunan tidak berkelanjutan dirasakan langsung di tingkat lokal.
Sektor swasta merupakan mesin pertumbuhan dan, dengan dihayati tanggung jawab sosial perusahaan, memainkan peran penting. Ia dapat menyertakan sumber daya profesional dan keuangan untuk mendukung ESD. Bagi lembaga pendidikan formal, ESD hendaklah tidak dianggap sebagai tambahan satu mata ajaran lagi dalam kurikulum yang sudah sesak. Selayaknya gagasan pembangunan berkelanjutkan diintegrasikan dalam konteks semua mata ajaran dalam “sebuah pendekatan sekolah menyeluruh.”
Dalam masyarakat adab, organisasi nonpemerintah khususnya terlibat dalam advokasi, kampanye dan lobi. Mereka juga menjadi perantara antara pemerintah dan warga masyarakat, khususnya di akar rumput. Sementara itu media beroperasi untuk mengkomunikasikan pesan ESD kepada masyrakat secara luas. Dengan demikian warga masyarakat yang sudah memperoleh informasi akan memiliki indera tanggung jawab sosial bahwa tindak tanduk mereka juga berdampak terhadap kehidupan orang. Akhirnya lembaga-lembaga internasional berfungsi memperluas kerjasama dalam ESD pada tingkat kawasan dan global. Mereka juga berperan dalam mempengaruhi arah politik dan program pendidikan nasional di dunia.
Setiap pemangku kepentingan memainkan peran kritis untuk kebaikan semua. Oleh karenanya keseluruhan tindakan mereka seharusnya berdampak lebih besar daripada usaha individual.
Bagi teman-teman yang ingin mengambil informasi lebih rinci lagi ini adalah situs-situs yang membahas ESD :
- Education for Sustainable Development, UNESCO: www.unesco.org/education/desd
- ESD Asia-Pacific, UNESCO Bangkok: www.unescobkk.org/esd
- United Nations Environment Network, UNEP: www.unep.net
- Frameworks and Strategies for Sustainable Development: www.undp.org/fssd
- Institute of Advanced Studies, UNU: www.ias.unu.edu/research/educationsd.cfm
- 360 Ways Sustainable Development Voyage: www.360ways.org
- A Better World for All: www.paris21.org/betterworld/home.htm
- Agenda 21: www.un.org/esa/sustdev/agenda21.htm
- Communication for Sustainable Development: www.comminit.com/ma2004/sld-9999.html
- DEPweb Explore Sustainable Development: www.worldbank.org/depweb
- Education for Sustainable Development Toolkit: www.esdtoolkit.org
- Sustainability Street: www.sustainabilitystreet.org.au
- Sustainable Development Networking Programme: www.sdnp.undp.org
- Teaching and Learning for a Sustainable Future: www.unesco.org/education/tlsf/index.htm
- National Strategies for Sustainable Development: www.nssd.net
- Atkisson Sustainability Consulting: www.atkisson.com
http://www.scribd.com/doc/57519259/Makalah-Utama-Pleno-Prof-dr-RetnoS-sudibyo-M-sc-Apt-pendidikan-Untuk-an-EfSD

